Menulis Adalah Hobi Saya. Ada Kebanggaan Tersendiri Jika Saya Mampu Menulis Beberapa Kalimat Ataupun Beberapa Lembar Tulisan. Terlebih Jika Tulisan Saya Dapat Diterima Dengan Baik Dan Konsumsi Oleh Pembaca.

Rabu, 31 Desember 2014

On 07.14 by Unknown in    No comments


Kata modrenisasi acap kali menjadi primadona para kebanyakan orang saat ini. Kendati tidak tahu sebetulnya modrenisasi secara gamblang. Ketimpangan pemikiran semacam ini sangat berbahaya. Pasalnya jika kita melihat negara-negara maju di eropa yang notabennya pusat kemodrenisasian, istilah moderen itu tak hanya identik dengan corak cara berpakain atau kemewahan saja. Banyak pakar mengatakan bahwa kemoderenan itu tumbuh dari akal manusia suatu zaman yang berkembang. Pengaruh akal akan membuat segala hal menjadi lebih mudah, lebih indah dan juga lebih diterima oleh masa selanjutnya.
Pada masanya, waktu akan membungkus sebuah masa itu sendiri, sehingga setiap masa mempunyai kemodernan sendiri secara terpisah dengan masa lain. Pendek kata apa yang kita anggap moderen pada saat ini belum tentu moderen pada zaman dulu, karena kita tahu banyak tegnologi pada masa kini tidak berfungsi di masa lalu. transpotasi bermotor contonya, tranpotasi bermotor adalah alat tranpotasi pada masa kini, terciptanya motor pada masa sebelum ditemukanya mesin akan menjadi tidak manfaat karena manusia saat itu telah menggandrungi transpotasi kuda, sapi atau onta yang sesuai dengan inspratuktur jalan saat itu. Sebaliknya motor sebagai model kendaraan tranportasi saat ini, belum tentun juga dianggap moderen jika dibanding kendaraan di masa depan. Begitu juga pakaian, pakaian orang dulu yang dianggap moderen adalah pakaian yang juga digandrungi orang terdahulu. Andai saja orang terdahulu mengenakan pakaian orang sekarang tentu mereka akan menolak karena merasa tidak pantas. Begitu sebaliknya, pakaian yang di anggap moderen saat ini iyalah pakaian yang telah digandrungi orang saat ini, jika orang yang hidup saat ini mengenakan pakaian tetdahulu, mereka akan katakan "pakaian kuno itu", dan tak banyak orang mau.
Terlepas dari sutuju atau tidak, kata modern artinya adalah sekarang ini/ masa kini, berasal dari bahasa latin. Senentara jika merujuk pada pendapat para pakar moderen adalah sebuah kondisi manusia dalam menerima kondisi kekinian pada masa mereka berada. Sebagaimana Alex Inkles katakan bahwa sifat orang modern itu bisa ditengarai dengan 1). Mau menerima pengalaman baru dalam hidupnya dan juga inovatif, 2). Mampu membuat opini dan mengutarakanya kepada orang lain serta bertanggung jawab atasnya, 3). Sangat menghargai waktu, 4). Membuat perencanaan dalam setiap pekerjaannya, 5). Optimis dan percaya diri, 6). Tidak muda percaya begitu saja sebelum mengetahuinya, 7). Menjaga martabat, 8). Berkecimpung di bidang ilmu dan teknologi, 9). Yakin bahwa segala yang di usahakan pasti bermakna. Idealisme kesembilan sifat ini mencerminkan invidu yang modern.
Sudut pandang modern mencakup segala sisi, karena akal manusia juga berfungsi untuk memikirkan segala sisi. Ketidak sesuaian atas pertimbangan akal adalah salah satu pendorong untuk perubahan kehidupan manusia pada sebuah masa. Tentu tidak bisa menafikan kemampuan manusia dalam merubah sebuah keadaan, yang mana kita tahu, dengan kemampuan manusia, segala keinginan manusia akan bisa terealisasikan. Potret inilah yang sejatinya yang disebut modern dengan segala perkembangan masanya.

Selasa, 16 Desember 2014

On 08.23 by Unknown in    No comments


Mata dan telinga kita sering kali membaca dan mendengar kasus HAM di media cetak atau elektronik yang terjadi negara ini. Serasa bukan perihal baru suara HAM Itu terdengar dan terbaca. Ironis term HAM sendiri mala 'mengebiri' hukum di negara ini. Indonesia sebagai negara dengan berbeda-beda suku bangsanya, saya kira negara ini mempunyai keraguan dalam bersikap terhadap pelanggar HAM. Ya Bisa dikatakan belum cukup umur untuk mengenal konsep HAM untuk direalisasikan.
Saya kira ketidak jelasan keteria seorang melanggar HAM lah yang mempengaruhi mainset masyarakat indonesia, sehingga kadang mengaburkan kasus-kasus pelanggaran HAM dinegeri ini. Praktis pelanggar HAM Itu sendiri lolos dari hukuman yang semestinya.
Baru-baru ini media mewartakan hukuman mati bagi pengedar narkoba, koruptor dan pembunuh. Kemudian masyarakat senang mendengarnya, namun tidak bagi pejuang HAM. Pejuang HAM menolak hukum mati untuk tiga kejahatan ini, dengan alasan melanggar HAM, sehingga penetapan hukum mati ini pun menjadi perdebatan yang panjang saat ini.
Jujur, saya adalah termasuk orang yang setuju dengan kebijakan hukum mati bagi tiga jenis kejahatan tersebut, tapi saya jugan takut isu hukum mati bagi pengedar narkoba, koruptor dan pembunuh hanya menjadi pengalihan kepanikan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM saja, pasalnya keduanya muncul secara bersamaan diwaktu yang sama dan pada pemerintahan yang sama. Sehingga setelah rakyat telah tenang atas kebijakan hukum mati terhadap tiga kejahatan tersebut, pemerintah pun juga urung menerapkan hukum mati tersebut.
Sepengetahuan saya Islam telah membuat dasar-dasar berkehidupan manusia untuk menjaga hak-haknya, baik sebagi pengikut agamanya atau sebagai warga negara. Dasar-dasar kehidupan itu meliputi hifdhun nafes (menjaga jiwa), hifdhul mal ( menjaga harta), hifdhun nasel (menjaga keturunan), hifdhu din (menjaga agama) dan terakhir hifdhu aqel (menjaga otak). Kelima dasar kehidupan tersebut bisa kita buat pijakan dalam melihat kejahatan-kejahatan kemanusian. Dalam masalah HAM, sebetulnya sangat simple membatasi kejahatan pelanggar HAM jika ditilik dari lima dasar hidup tersebut.
Walau hukum islam berpatokan terhadap lima dasar tersebut hukum islam tetap menggunakan qisos, rajam dan jilid ,sehingga pertanyaan seperti apakah hukum islam tidak menelan kaidah-kaidah (lima kaidaj) hukum kehidupanya sendiri, jika menerapkan hukum qisos bagi pembunuh dan penculik, rajam bagi pezinah dan jilid bagi pengkonsumsi miras?, dan apakah penegak hukum syariat islam sudah 'mendahului' hukuman tuhan besok di neraka? Dimana pertanyaan ini saya ambil dari sebuah diskusi, mereka (salah satu aktifis HAM) mengatakan " hukuman mati pada pembunuh, pengonsumsi narkoba dan koruptor itu mendahului hukuman tuhan". Saya kira tidak, Allah SWT menjelaskan hikmah qisos dalam surah al baqorah 179 . "Walakum fil qishosi hayatun ya ulil albab la'alakum tattaqun" (Dan bagi kalian dalam qisos itu ada jaminan kelangsungan hidup hai orang yang berakal supaya kalian bertakwa). Dalam surah ini jelas Allah SWT sebagai tuhan menyuruh kita menerapkan hukum qisos dan mejelaskan hikmahnya.
Bagaimana Jika jaminan kelangsungan hidup itu tidak didapat ketika dijalankannya qisos, apakah hilang juga anjuran hukum qisos itu? Saya kira begini, setidaknya jika hukuman mati pada pengedar narkoba, pembunuh dan koruptor diterapkan, maka hukum di indonesia mempunyai keuntungan, dan keuntunganya adalah rasa keadilan yang dirasakan masyarakat banyak. jika pengedar narkoba dihukum mati, maka masyarakat tidak cemas terhadap anak-anaknya. jika pembunuh dihukum mati, maka rasa keadilan yang dirasakan keluarga korban pembunuhan semakin puas, sehingga tidak menimbulkan balas denda yang menyebabkan kematian berantai, dan jika koruptor yang merugikan dan mengambil uang negara dihukum mati, saya kira masyarakat meraskan keadilan, minimal masyarakat bisa membedakakan si pencopet ubi, pencopet kayu bakar untuk masak dengan pencopet uang negara yang besar jumlahnya.
Terlepas dari Negara lain yang sudah menerapkan hukum mati bagi ketiga kejahatan ini tidak mengalami penurunan jumlah kejahatan. Saya kira hukuman mati untuk ketiga kejahatan ini sangat bisa diterima mayoritas lapisan masyarakat di negeri ini, jika betul diterima mayoritas masyarakat, saya kira ini keadilan yang dengannya tidak ada jargon "hukum di indonesia tumpul ke atas tajam ke bawah", karena setelah hukum mati untuk ketiga kejahatan ini di tetapkan, masyarakat kita sudah bisa merasakan perbedaan hukum berat pada tindak pidana berat dan hukum ringan pada tindak pidana ringan.
Namun perlu juga dipersiapkan penegak hukum yang adil, mulai dari penyidik sampai pemutus harus bekerja di atas keadilan, bukan karna uang, bukan karna jabatan atau karena keluarga, melainkan karena keadilan. Dan hemat saya penegak hukum yang adil adalah jika mereka mempunyai ilmu yang mumpuni, intregritas sebagai tangan tuhan dan memutus atas dasar konstutional bukan hawa nafsu.
Terakhir saya menulis ini bukan untuk kepentingan agama saya agar pembaca kagum dengan agama saya, melainkan saya menulis tulisan ini karena ingin mencoba mengkomperasikan dasar-dasar HAM dengan maqosidus syar'i yang saya ketahui. Saya mengira maqosidus syar'i tak jauh beda dengan tujuan hukum di indonesia, walau hukum di indonesia masih mengekor ke hukum yang diajarkan kolonial belanda. Besar harapan saya kepada aktivis HAM baik secara organisasi atau individu untuk memahami lagi sosiologi hukum yang ada dan juga filsafat hukumnya. Karena saya kawatir jargon HAM yang anda sering suarakan malah membuat kacau hukum di negeri yang kita cintai ini.

Rabu, 24 September 2014

On 09.40 by Unknown in    No comments

Seseorang harus meyakini bahwa eksistensinya tidak begitu saja ada. Seseorang harus meyakini bahwa dirinya ada karena ada yang menciptakan. Sebagaimana adanya kursi, banguanan rumah, mobil dan benda lain yang adanya melalui proses pembuatan. Agama adalah bingkai keyakinan yang membatasi keyakinan seseorang terhadap tuhannya. Tuhan adalah pencipta segala yang ada di muka bumi ini. Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Ciptaanya meliputi sesutau yang bernyawa dan tidak bernyawa, yang berkembang dan tidak berkembang.

Dari ciptaan Tuhan, semuanya akan sirna pada saat-saat yang ditetapkan. Ciptaan tuhan  mengalami sebuah metamorphosis yang berbeda-beda. Seekor kupu-kupu contohnya, Kupu-kupu sebelum menjadi kupu-kupu adalah sebuah kepompong, sebelum jadi kepompong adalah ulat, sebelum menjadi ulat adalah telur kupu-kupu. Begitu juga manusia, manusia sebelum berbentuk manusia adalah sebuah daging, sebelum menjadi daging manusia adalah darah, sebelum manjadi darah, manusia adalah setetes sperma menjijikkan yang berkembang di dalam rahim perempuan.

Metamorphosis adalah satu dari proses penciptaan mahluk oleh Tuhan. Kita pasti sepakat bahwa adanya kursi karena ada proses pembuatan, asal dari kursi adalah bahan-bahan yang untuk membuat kursi yang kemudian dibentuk menjadi ukuran dan bentuk yang diharapkan. Dengan demikian, ayah dan ibu pada manusia adalah salah satu media produksi yang menyebabkan metamerphosis pada manusia.

Ahli Teologi (Ulama Ilmu Kalam) sepakat bahwa pencipta dan sesuatu yang diciptakan tidaklah sama perbedaan tersebut meliputi segala hal, berbeda bentuk (dzat) dan Sifatnya. Robot contohnya, Robot dibuat oleh manusia tidaklah sama dengan manusia walaupun diprogram sebagaimana manusia. Perbedaan pencipta dan yang diciptakan itu, Pertama adalah keberadaan pecipta (si pembuat) Robot lebih dahulu dari Robot. Ke dua adalah pecipta (si pembuat) Robot lebih hebat dari Robot, hal ini ditengarai aktivitas Robot adalah merupakan program pecipta (si pembuat) Robot dan Ke tiga adalah Robot sangat bergantung kepada sipembuatnya dalam segala hal untuk menjaga eksistensinya. Menurut keyakinan Ahli Sunnah Wal Jamaah segala hal yang diciptakan manusia hakikatnya adalah ciptaan Tuhan. Tuhan memberi kekusaan kepada masnusia untuk dapat menciptakan sesuatu melalui Ilmunya, itu sebabnya manusia adalah khalifah dimuka bumi ini.

Peran manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini selain untuk menyembah Tuhan adalah menciptakan dan memmelihara ciptaan tuhan yang lainya. Ironisnya kebanyakan manusia ingin selalu ‘diciptakan’ dan ‘dipelihara’ oleh mahluk lain. Manusia  ingin ‘diciptakan’ dan ‘dipelihara’ uang dalam keberadaanya dan manusia lebih suka  ‘diciptakan’ dan ‘dipelihara’ oleh Alam semesta dalam kelangsungan esksistensinya dari pada menciptakan Alam semesta dan memeliharanya.

Seharusnya manusia meciptakan alam dengan menjaga dan melestarikan alam, sehingga alam mampu bertahan sebagai penyedia kebutuhan manusia. Seharusnya manusia  tidak diciptakan oleh uang sehingga manusia tidak rakus atas harta dan tidak menghalalkan segala cara dalam mendapatkannya. Urgenitas di atas jarang dipahami oleh kebanyakan orang dalam hidupnya. Sehingga kebanyakan mereka tidak tahu sesuatu yang urgen dan yang tidak penting dalam hidupnya.   

   

Sabtu, 13 September 2014

On 11.34 by Unknown in    No comments

Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri ini konsisten terhadap pembelaan rakyat yang semakin hari semakin melarat. Ironi, rakayat  lebih asik masuk dengan gaya kepemimpinan pemimpin dari pada pola pengentasan masalah-masalah di Negeri ini. alih-alih mensejahterakan rakyat Indonesia, malah membebani dengan masalah  yang lebih berat lainnya.

Produk hukum menjadi kajian utama dalam adu jotos kekuasaan untuk menggulingkan lawan politiknya. Ribuan kali berlari mencari keadilan karena merasa haknya dirasa saling dirampok. Saya bertanya, Sebetulnya hal ini bentuk melek hukum atau pelecehan hukum di negeri ini? Pakemnya semua orang di era refomasi ini menjujung nilai-nilai demokrasi tanpa batas, sehingga sulit memahami apa makna demokrasi walau ribuan kali di seminarkan dan kulilahkan.

Satu hal yang perlu dicermati, kebebasan bermedia sosial dan juranalis gadungan menjadikan demokrasi di Indonesia menjadi tak wajar. Media cetak dan media elektronik telah banyak membuka ruang  untuk menerima uang kampanye, ditamba lembaga surve yang tak lagi obyektif dalam membangun asumsi publik masyarakat umum menyebabkan banyak hal menjadi keluar dari etika-etika bernegara di Indonesia ini. masyarakat Indonesia  yang seharusnya berbudi santun dan menjunjung nilai-nilai budaya nenek moyang negara ini berupa musyawarah dan mufakat, kini saling berkhianat walau sudah ‘disunat’ dan menjabat.

Sering kali pemimpin di Negeri ini amnesia tentang apa yang baru dikatakannya. Dulu mencela, setelah dijadikan wakil ganti memuja, dan sebaliknya, dulu memuja, setelah mendapatkan tahta ganti mencela. Heranya keduanya diapresiasi rakyatnya, tak sedikit dari rakayat sekedar selfi atau  atau menyumbang kampanyenya. Sisi lain yang agak berbeda, pemimpin partai berusaha mengacau politik moral yang lagi tren ini dengan ‘memperkosa’ hukum, sehingga hukum yang tidak semestinya menjadi cambuk untuk meruntuhkan lawan politiknya.

Harus diingat sejarah telah mengukir ribuan kehancuran manusia karena ada dari mereka yang munafik  di dalam kelompoknya. Kemunafikan atau kita kenal dengan berwajah dua ini mempengaruhi kemajuan individu seseorang dan negaranya, bahkan lebih bahaya dari kejahatan fisik yang dilakukan pemeberontak suatu negara.


Teori hidup, secara manusiawi, setiap orang yang melakukan sesuatu pasti punya orientasi ingin diakui orang lain, dan jika tidak diakui orang lain, maka menginginkan yang lain. Warisan keluhuran budi pekerti baik Nabi telah habis diwariskan kepada pemimpin pendahulu  kita. Wajar jika asumsi bebas saya mengatakan lain pada apa yang dilakukan pemimpin-pemimpin saat ini. Jika anda bersedia, maka berhati-hati dengan wajah dua para pemegang tahta saat ini, demikian agar tidak muda di adu domba karena kekaguman anda pada setiap pemimpin yang anda puja-puja. 

Minggu, 31 Agustus 2014

On 19.17 by Unknown in    No comments
   
1.      حِفْظُ الدِّيْنِ (Menjaga Agama)
2.      حِفْظُ النَّفْسِ (Menjaga Diri)
3.      حِفْظُ الْعَقْلِ (Menjaga Akal)
4.      حِفْظُ النَّسَلِ (Menjaga Keturunan)
5.      حِفْظُ الْمَالِ (Menjaga Harta)

Kamis, 10 Juli 2014

On 19.25 by Unknown   No comments



Aku terlahir dari keluarga yang ekonominya menengah kebawa. Ibuku meninggal saat aku berumur sembilan tahun. Sayang, seharusnya ibu tidak meninggalkan aku pada saat itu, namun takdir berkata lain. Kaki ibu membengkak. Bengkaknya kaki ibu membuat sulitnya berjalan, sembilan tahun sebelum ibu meninggal kaki ibu tertusuk duri saat membersihkan kebun salak milik kami yang tak jauh dari rumah kami, sehingga menurut dokter terjadi titanus yang menyebabkan pembengkakan. Setidaknya aku bersukur, karena sepeninggal ibu ada seorang ayah disampingku.
Teringat kasih sayang ibu yang begitu tulus kepadaku dan adiku. Saat masi berada di bangku taman kanak-kanak, ibu selalu setia mengantarku ke sekolah yang mungkin berjarak dua ratus meter dari rumah kami. Saat aku dikelas kulihat paras ibu yang sedang duduk di bawah pohon beringin didepan ruang kelasku. Dia menunggu aku hingga bunyi bel pulang terdengar. Ibu juga sering bercerita dibawah pohon itu saat istrahat kami, sambil menyuap puluan nasi ibu bercerita tentang pengalamanya semasa sekolah dulu, aku tidak dapat menceritakan ulang cerita ibu secara utuh, namun masi kuingat beberapa penggal cerita ibu saat itu.
“ibu dulu ketika sekolah tidak sepintar kamu sekarang dul, tapi ibu mau belajar saat pulang sekolah dan malam hari” cerita ibu padaku.
“aku juga tidak pintar seprti ibu, dan juga mau belajar setelah pulang sekolah dan pada malam hari”, ingin seperti ibu itulah yang kurasakan pada saat itu, ibupun tersenyum mendengar kalimat itu seraya mengiyakan.
Keesokan harinya ganti aku yang memulai cerita saat ibu membukan tasnya untuk mengambil sebotol air dan sekotak ansi yang sengaja dibawahnya aku memulai cerita, kini pengalamanku saat disekolah
“ibu tadi dikelas aku dipukul oleh buguru pake penggaris lihat ini bu” ku tujukan bekas memar di pupu kananku.
“memang kamu salah apa” tanya ibu curiga.
“pertama aku mengambil pinsil kawanku untu ku pakai, namun  karena tanpa seizinya aku diplototin oleh ibu itu sambil marah-marah, lalu aku disuruh pindah tempat duduk, aku tidak mau, dan ibu itu marah-marah lagi lalu ku ambil pena yang ada di saku baju ibu itu, lalu ibu itu memukulku dua kali dengan penggaris” tandasku kesal.
Ibu saat itu diam sambil membuka kotak nasi yang diambilnya dari tasny tadi. Saat itu aku berharap ibu akan marah pada guru yang memukulku. Setelah di memberikan suapan pertama padaku ibu merespon ceritaku.
“kan kamu yang salah, besok jangan diulangi lagi” jawab ibu singkat.
Saat pula aku berfikir bahwa ibu tak sayang lagi padaku, apa gunanya setia menunggu setiap hari depan kelasku jika saja anaknya dipukul malah menyalahkan aku.

***

Tiga tahun kemudian ayah menyusul ibu meninggal dunia. Berbeda dengan ibu, ayah meninngal karena kecalakaan ditempat ayah bekerja. Setumpuk kayu runtuh menimpah ayah dan beberapa rekan kerjanya. Begitu terpukul saat aku mendengar ayah meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Tinggallah aku bersama adik laki-lakiku yang sekarang masih duduk di sekolah menengah Pertama. Adiku tujuh tahun lebih mudah dariku. Ayah begitu menyayanginya, kata ayah  adiku mempunya paras yang hampir sama dengan kake. Tapi menurutku bukan itu sebabnya ayah menyayangi adiku melebihi aku.  Menurutku ayah seharusnya menggantikan posisi ibu yang dahulu meninggal dunia saat adiku berumur dua tahun.
Sepulangnya adikku dari sekolah, ayah telah menyiapkan telor mata sapi yang berbentuk hati di meja makan. Telor goreng mata sapi dengan bentuk hati yang di lihat ayah di televisi cukup menyita perhatian adiku samasa kecilnya. Bukan hanya telor goreng mata sapin saja sejak kecil adiku tidak mau tidur dikamar sendiri atau bersmaku, di lebih suka tidur bersama ayah, demikian ayah mengelus-elus perutnya untuk mengantarnya dia tidur.
Ayah juga sering berkata “sayangi adikmu, seperti kamu menyayangi ibu dan ayah”
Suatu ketika aku coba mengantarnya ke sekolah, kebetulan hari itu tidak mempunyai mata kuliah, sedangkan ayah harus lebih pagi berangkat ke tempat dia kerja “anatar adikmu ke sekolah, tempat kerja ayah sekarang jauh, maka ayah harus berangkat lebih pagi” pinta ayah sambil mempesiapkan bekalnya. Sementara adikku masi tidur dengan mendekap bantal guling dengan corak warna abu-abu. Kulihat jam masi menunjukan angka lima pagi, tak mungkin aku bangunkan adiku saat itu. Beberapa detik kemudian, aku menju kearah kamar mandi yang behadapan dengan ruang makan, tak sengaja mataku melihat telor goreng mata sapi seperti biasa ayah siapkan untuk sarapan adiku. Begitu juga nampak pula tumpukan nasi di panci tertutup sangi, ayah biasa menyiapkan sarapan untuk kami sebelum berangkat kerja, kadang ayah juga mencuci bajuku walau sudah aku katakan padanya aku saja yang mencuci.
Semburat anak sekolah saat kami sampai dimulut gerbang sekolah adikku, beberapa anak berlari menuju ke kelas, ada pula yang menangis disandaran pagar bambu yang menjaga bunga-bunga didalamnya. Nampak juga ongokan guru yang bersalaman dengan siswa-siswa yang baru datang “ayo.. ayo... jangan lari-lari” pintanya sambil bersalaman. Adikku menggapai tanganya dan tak kulihat lagi setelah itu.
Melihat suasana itu aku terbayang wajah ibu, ibu tidak akan pergi sebelum melihatku memasuki ruang kelas, ibu tetap berdiri sambil membawa tasnya, terkadang aku mengintip dari balik cendela, apakah ibu telah duduk di bawah pohon bringin biasa ibu menunggu, jika ibu telah memenggang buku aku tak lagi mengintip.
Aku bercerita pada adikku tentang masa sekolahku, maka ku ceritakan guruku. Aku mengagumi guruku yang satu ini, walau banyak teman-temanku tak menyukainya lantaran kejamnya, tidak jarang bapak itu marah-marah pada kami, bahkan ada yang pernah terlempar penghapus hingga pelipis matanya bercucur darah. Adiku mulai tercengan mendengar ceritaku.
“lalu kenapa abang kagum dengan guru itu”
“pak fadil ketika menerangkan runtut, selain runtut kata-katanya mudah dicerna, beliau juga sering memberi hikmah dalam ceritanya, sehingga abang tau beliau marah bukan karna amarah tapi karna cinta”
“maksud abang?”
“dia marah bukan karna kami tidak bisa, akan tetapi karena kami melanggar peraturannya, masi saja aku ingat dia berkata, tancapkan cita-cita dalam hatimu, dan jangan kau melihat ekonomimu, sehingga kau tahu kesuksesanmu sudah di matamu”
“guru abang seperti pak Husnan yang beberapa bulan lalu di perkarakan oleh orang tua siswa yang di tamparnya hingga berdarah”. Potong adikku. “pak Husnan hampir sama dengan guru abang, beliau pernah mengatakan, belajar itu punya metode, dan untuk mengabdi jika kau pintar nanti”
Kurasa adikku mempunyai pengalaman yang kebetulan sama, dia merasa tak semua guru marah itu benci kepada muridnya, tidak semua guru menampar itu untuk mempermalukan anak didiknya, apalagi melukai. Sepasang mata guru melotot kadang tidak cukup untuk memperbaiki kenakan anak didiknya, sayang ternyata di balik kepedulian beliau tidak semua bisa difahami oleh semua orang.
***
Di kamar terasa tidak lagi nyaman, beberapa buku berserakkan di lantai bersma kertas-kertas yang juga belum kurapikan semalam. Sementara adiku kulihat duduk menikmati segelas teh yang di buat beberapa menit lalu.
“ayah sudah tidak ada, abang harus mencari pekerjaan yang layak, kita tidak mungkin hidup tanpa uang, sementara aku harus kuliah beberapa tahun lagi” celetuk adiku.
Aku tak tahu apa maksud adiku, tanpa dia mengatakan itu, aku pun sudah berfikir untuk mencari kerja, karena tidak mungkin jika tidak bekerja.  Beberapa hari ini aku tidak masuk kuliah, walau peringatan sudah kuterima.
“aku beberapa hari ini mengajukan lamaran ke beberapa intansi, kamu harus sabar” imbauku lirih padanya.
“jika samapinya nanti kamu kuliah aku belum mendapat kerja, maka iklaskan kebun salak itu kita jual” tambahku.
“tidak mungkin kebun salak itu kita jual, itu pusaka, itu warisan peninggalan orang tua kita”
Hening saat adiku mengatakan itu, Fikiranku mulai memburu otak, bagaimana aku harus menenangkan adikku, kurasa dia masi rindu pada ayahn yang baru tujuh hari meninggalkannya. Beberapa hari ini dia tidak mau berangkat sekolah, sering mengurung diri di kamar. Sesekali membaca yasin ku dengar, tapi tak jarang dia menangis dibalik bantal yang menutupi wajahnya.
Aku terus berfikir apa sebetulnya yang mendorong adikku  mengatakan keharusanku mendapat pekerjaan, selama ini aku sadari ayahlah yang menghasilkan uang, sementara aku belum pernah berfikir untuk bekerja, mungkin ketakutan adikku aku tidak akan bekerja sepeninggal ayah.
  Beberapa jurus sudah aku keluarkan untuk meyakinkanya bahwa aku akan mendapat pekerjaan beberapa hari lagi, namun tidak juga berhasil. Kulihat lagi linagan air mata berkali-kali dia hela dari pelupuk matanya, terlihat sedikit basah tangan kirinya menghela beberapa tetesan air mata yang akan mengakir di pipihnya.
“jika engkau mengatakan akulah penyebab kematian ayah, karena aku tak mau bekerja saat ayah ada, itu sangat konyol”. Cetusku.
“ayah melarangku untuk bekerja, ayah mengatakan ayah masi mampu” tambahku liri.
Terdengar isakan dari arah adikku.
“jika kau masi menyalahkanku, maafkan aku, belajarlah untuk menerima takdir tuhan, aku telah merasakan kedua kalinya”
 Pipihnya masi basah, isaknya masi aku dengar dari balik pintu kamar mandi. Gemricik air dari pipah mengajaku untuk sekali berfikir, berdoa diantara isak tangisnya dan gemricik air, berharap kebahagian kedua orang tua dialam sana, sambil meminta kesuksesan dan kebahagian aku dan adikku. Berkali-kali aku siramkan air di kepalaku, sedikit demi sedikit mulai kufahami takdir ilahi.
Adiku masi menutup wajahnya yang sayup, mengisak sedari tadi, kulihat bantal sudah lemabab menutupi wajahnya. Sesekali kutatap foto ayah dan ibu yang kebetulan menempel didinding ruang itu, terbayang wajah ayah, terbayang awajah ibu saat menggendong adiku di ruang itu. Semakin kuat inginku untuk tidak membayangkan ayah dan ibu, semakin kuat mereka ada di ingatanku. Ku pandangi lagi adiku yang masi menutup wajahnya dengan bantal. Ayah ibu tidak pernah mengajarkan padaku tentang sedihnya saat itu, ibu hanya menceritakan kisah-kisahnya di sekolah. Ibu juga tidak pernah memberikan alasan mengapa tidak melaporkan guruku kepolisi saat aku di pukul dengan Rule, ibu juga tidak perna menceritakan padaku bagaimana rasa di tinggal orang tua.
***
 Malam telah berganti, cahaya matahari pun sedikit menerobos dari balik cendela kamarku, tak seperti beberapa hari yang lalu, telor goreng mata sapi tersaji sebagaimana ayah masi ada. Saat itu aku sedikit terkejut, siapa yang membuatnya, apakah ayah kembali lagi, karena tangis dan doaku, apakah ayah hidup kembali karena melihat adikku sangat terpukul ditinggalnya. Ah dalam hidup orang yang sudah mati tidak mungkin hidu kembali, apalagi ayah telah dikuburkan beberapa hari yang lalu, bahkan hari ini adalah hari ke empat puluh ayah meninggal. Sebagaiman adat masyarakat dikampungku, hari keempat puluh diadakan membaca yasin dan tahlil untuk si mayat. Maka sangat mustahil jika ayah hidup kembali.
Diantara keherananku adiku datang dari balik tubuhku.
“sekarang empat pulu hari ayah meninggal, yasin dan tahlil yang nanti akan di baca bukan hanya untuk ayah tapi juga untuk ibu” kata adiku sambil duduk tepat di kursi yang berhadapan dengan telor goreng mata sapi.
“urusan biayah, ayah pernah memberiku uang, tidak banyak tapi kukira cukup untuk acara seperti ini, sementara uang sisah pelayat yang disumbangkan saat ayah meninggal masukanlah kedalam amplop, anggap saja itu shodaqoh ayah dan ibu” himbaunya padaku.
Saat itu aku tidak tahu akan mengatakan apa, adikku seperti memutus sarafku untuk berfikir dan menjait mulutku sehingga terdiam, namun dia juga mengalirkan air mataku yang sedari malam terpejam karena kantuk. Aku bersyukur mempunyai adik sepertinya. Perasaan bangga dan takjub terhadap sikapnya, tidak salah ayah menyamakannya seperti kake.
Beberapa tamu undangan sudah berada di halaman, paman Sukno beserta istri dan bi Alisah beserta suami sedari pagi membantu kami. Mereka yang mengatur perihal acara kami. Tamu undangan mulai masuk ke dalam rumah berukuran mini milik kami. Seorang tamu yang juga aku kenal namanya pak Subhan memanggilku. Dia membutuhkan bantuanku untuk mengurus perkara pak Husnan seorang guru yang di tuntut orang tua siswa disekolah adikku. Pak subhan adalah seorang guru yang kebetulan ketua dari ikatan guru di kecamatanku.
Perkara Pak Subhan tidaklah layak untuk di biarkan, jika dibirkan menurutnya akan merusak profesi guru dan kesakralan guru dimata murid-muridnya.
“posisi pak Husnan itu benar, bukan salah, melototin murid itu benar kalau mereka melanggar,  apalagi murid melawan guru, ya sewajarnya di tamapar” kata pak Subhan.
Kisah ibu di masa sekolahnya, pengalamanku tentang tanggapan ibu saat aku dipukul oleh guru, ibu tidak pernah salahkan guru yang memukulku akan tetapi menyalahkanku, saat itu aku tertarik untuk bergabung dengan pak Subhan.
Masa kuliah yang hanya beberapa bulan lagi memberiku pelajaran yang sangat berarti untuk membantu pak Subhan, dan tidak jarang aku berdiskusi dengan para advokad untuk mengetahui bagaimana cara pembelaan terhadap klayen. Itu sebabnya pak Subhan mengangkatku menjadi guru di sekolah yang dikelolahnya. Dan aku berharap ayah dan ibu mengajariku saat aku meliahat plototan sepasang mata guru, dan marahnya ibu padaku saat aku dipukul guruku, sehingga akupun tahu rasa sayangmu.


Oleh Agus Salim
Tamabak, 24/05/2014