Selasa, 13 Januari 2015
On 07.58 by Unknown in Negara No comments
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa
di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri ini
konsisten terhadap pembelaan rakyat yang semakin hari semakin melarat. Ironi, rakayat
lebih asik masuk dengan gaya
kepemimpinan pemimpin dari pada pola pengentasan masalah-masalah di Negeri ini.
alih-alih mensejahterakan rakyat Indonesia, malah membebani dengan masalah yang lebih berat lainnya.
Produk hukum menjadi kajian utama dalam adu jotos
kekuasaan untuk menggulingkan lawan politiknya. Ribuan kali berlari mencari keadilan
karena merasa haknya dirasa saling dirampok. Saya bertanya, Sebetulnya hal ini
bentuk melek hukum atau pelecehan hukum di negeri ini? Pakemnya semua orang di
era refomasi ini menjujung nilai-nilai demokrasi tanpa batas, sehingga sulit
memahami apa makna demokrasi walau ribuan kali di seminarkan dan kulilahkan.
Satu hal yang perlu dicermati, kebebasan bermedia sosial
dan juranalis gadungan menjadikan demokrasi di Indonesia menjadi tak wajar. Media
cetak dan media elektronik telah banyak membuka ruang untuk menerima uang kampanye, ditamba lembaga
surve yang tak lagi obyektif dalam membangun asumsi publik masyarakat umum menyebabkan
banyak hal menjadi keluar dari etika-etika bernegara di Indonesia ini. masyarakat
Indonesia yang seharusnya berbudi santun
dan menjunjung nilai-nilai budaya nenek moyang negara ini berupa musyawarah dan
mufakat, kini saling berkhianat walau sudah ‘disunat’ dan menjabat.
Sering kali pemimpin di Negeri ini amnesia tentang apa
yang baru dikatakannya. Dulu mencela, setelah dijadikan wakil ganti memuja, dan
sebaliknya, dulu memuja, setelah mendapatkan tahta ganti mencela. Heranya keduanya
diapresiasi rakyatnya, tak sedikit dari rakayat sekedar selfi atau atau menyumbang kampanyenya. Sisi lain yang
agak berbeda, pemimpin partai berusaha mengacau politik moral yang lagi tren
ini dengan ‘memperkosa’ hukum, sehingga hukum yang tidak semestinya menjadi cambuk
untuk meruntuhkan lawan politiknya.
Harus diingat sejarah telah mengukir ribuan kehancuran
manusia karena ada dari mereka yang munafik
di dalam kelompoknya. Kemunafikan atau kita kenal dengan berwajah dua
ini mempengaruhi kemajuan individu seseorang dan negaranya, bahkan lebih bahaya
dari kejahatan fisik yang dilakukan pemeberontak suatu negara.
Teori hidup, secara manusiawi, setiap orang yang melakukan sesuatu pasti punya orientasi ingin diakui orang lain, dan jika tidak diakui orang lain, maka menginginkan yang lain. Warisan keluhuran budi pekerti baik Nabi telah habis diwariskan kepada pemimpin pendahulu kita. Wajar jika asumsi bebas saya mengatakan lain pada apa yang dilakukan pemimpin-pemimpin saat ini. Jika anda bersedia, maka berhati-hati dengan wajah dua para pemegang tahta saat ini, demikian agar tidak muda di adu domba karena kekaguman anda pada setiap pemimpin yang anda puja-puja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Seseorang harus meyakini bahwa eksistensinya tidak begitu saja ada. Seseorang harus meyakini bahwa dirinya ada karena ada yang menciptaka...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri i...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri...
-
Orang SBY banyak menjadi terpidana korupsi gara-gara KPK, tapi Demokrat tak pernah serang KPK, walau yang mendirikan KPK adalah rezim SB...
-
Nek Gak Melu Nabi, Melu Sopo? Nek Gak Melu Kiai, Melu Sopo? Kurang lebih ada waktu 35 jam untuk menentukan masa depan Indonesia ...
-
Aku terlahir dari keluarga yang ekonominya menengah kebawa. Ibuku meninggal saat aku berumur sembilan tahun. Sayang, seharusnya ibu tid...
-
1. حِفْظُ الدِّيْنِ (Menjaga Agama) 2. حِفْظُ النَّفْسِ (Menjaga Diri) 3. حِفْظُ الْعَقْلِ (Menjaga Akal) ...
-
Kata modrenisasi acap kali menjadi primadona para kebanyakan orang saat ini. Kendati tidak tahu sebetulnya modrenisasi secara gamblang...
-
Petinggi KPK sejauh ini belum ada yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sehingga lawan pun menggunakan masa lalu yang sebetulnya...
-
Mata dan telinga kita sering kali membaca dan mendengar kasus HAM di media cetak atau elektronik yang terjadi negara ini. Serasa buka...
Categories
Sample Text
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar