Menulis Adalah Hobi Saya. Ada Kebanggaan Tersendiri Jika Saya Mampu Menulis Beberapa Kalimat Ataupun Beberapa Lembar Tulisan. Terlebih Jika Tulisan Saya Dapat Diterima Dengan Baik Dan Konsumsi Oleh Pembaca.

Kamis, 10 Juli 2014

On 18.52 by Unknown in ,    No comments


Nek Gak Melu Nabi, Melu Sopo?
Nek Gak Melu Kiai, Melu Sopo?
Kurang lebih ada waktu  35 jam untuk menentukan masa depan Indonesia lima tahun kedepan, jujur saya sangat bingung, saya punya Kiai yang saya kagumi, kawan saya juga punya kiai yang mereka kagumi. saya masih yakin pentingnya peran Kiai dalam menentukan presiden untuk indonesia lima tahun kedepan, ini sebabnya menjadi pertimbangan Kiai untuk tidak lepas tangan dalam ihwal pilpres.
Tentu orang semacam saya yang masih mengidolakan kiai, akan mengikuti kiai idola saya dalam memilih. Karena saya juga mengira Kiai yang saya idolakan tak mungkin salah dalam memilih. Kiai punya dasar untuk melakukan sesuatu begitu juga memilih. Dan saya juga sadar, pilihan itu hak priogatif saya, artinya kiai tidak pernah menyuruh atau memaksa saya untuk memilih sama dengan dirinya.
Sebagai orang biasa yang bukan aktivis atau orang berpendidikan tinggi, jujur saya masih ragu tentang penghargaan yang banyak disabet oleh walikota solo dan gubernur jakarta itu, sehingga pendukungnya membela mati-matian kepadanya. Hemat saya, suatu daerah atau negara dikatakan ideal harusnya rakyatnya sejahterah, jauh dari sparatis, dapat menjalankan hukum dengan adil dan tidak banyak TKInya, begitu juga sediktnya pengangguran. Saya bukan orang solo, tapi saya melihat, mendengar dan mengenal siapa Abu Bakar Ba’asyir, saya juga membaca jumlah pengangguran di solo tahun 2011 sebanyak 25% atau 133 ribu jiwa dari 550 ribu jiwa,  artinya sepermpat penduduknya tak dapat kerja. Pencita sepak bola mungkin masi ingat siapa Diego Mendieta yang meninggal karena sakit menunggu gajinya, kenapa solo dapat penghargaan indonesia tourism award dan piala citra bidang  pelayanan prima.
Saya juga masi ingat kata pepatah “tunggangan iku gak ado karo sing nunggang”. Saya ragu keiklasan jokowi jika yang digunakan untuk nyapres adalah salah satu partai yang terkenal kotor. Yang membuat saya kurang setuju, kenapa ketika jokowi nyapres tapi jokowi tidak mau lengser dari gubernur jakarta, sementara Hata Rajasa mau meninggalkan kementriannya dengan legowo, apakah jokowi takut jika tidak jadi presiden, maka dia tetap menjadi gubernur. Walau pun hak jokowi, di hati saya hal itu sangat tidak patut.
Terakhir, tulisan ini tidak bermaksud menggembosi niat anda untuk memilih Jokowi. Saya yakin, tak banyak kekaguman saya pada jokowi, sehingga saya membuat alasan dalam tulisan,  kenapa saya tinggalkan jokowi. Dan memilih prabowo, saya mengirah prabowo punyan kekuatan untuk menghalau perbedaan di negeri ini walau didalam koalisi Prabowo ada PKS, Muhammadiyah, NU dan FPI, atau agama dan ormas lain.
Saya kira yang tidak bisa menerima perbedaan adalah koalisi jokowi yang hanya ada NU dan partai nasional lain. Mudah-mudahan dengan bergabungnya Ormas Islam dalam sebuah bingkai negara satu dapat meminimalisir kekacauan atau perang saudara. Yang sangat sakit, adalah ketika saya mengingat kata Gus Dur “saya saja dihianati, apa lagi kalian” saya mengira si penghianat  Gus Dur ada di koalisi Jokowi, mereka  itu piminan partai hijau dan pimpinan parta merah.
Samapaikan salam saya pada JK, kenapa anda menelan ludah sendiri, saya masi ingat ko’ anda ngomong “jika jokowi jadi presiden, rusaklah negeri ini”, dan saya masi ingat kata Mahfud MD Ketika sarah sehan haul Gusdur di Aula wahid Hasyim tebu Ireng “mudah untuk memenenangkan orang yang ribut-ribut, kasi saja mereka jabatan, pasti diam”. Saya kira selama Allah Memberi saya hidup, saya tidak akan melupakan ucapan JK.
Oleh: Agus Salim
Banyumas, 7 juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar