Menulis Adalah Hobi Saya. Ada Kebanggaan Tersendiri Jika Saya Mampu Menulis Beberapa Kalimat Ataupun Beberapa Lembar Tulisan. Terlebih Jika Tulisan Saya Dapat Diterima Dengan Baik Dan Konsumsi Oleh Pembaca.

Minggu, 25 Januari 2015

On 10.16 by Unknown in    No comments

Orang SBY banyak menjadi terpidana korupsi gara-gara KPK, tapi Demokrat tak pernah serang KPK, walau yang mendirikan KPK adalah rezim SBY. KPK terkesan jantan pada masa priode SBY karena berani ciduk Orang SBY dan Polri dalam korupsi simulator di kepolisian.
Tapi tidak di masa jokowi, sebelum geligat koruptor Orang Jokowi tercium anyirnya, maka PDIP mencoba menghancurkan repotasi KPK dengan cara yang tak hormat. pada rezim jokowi, siapa yang berani menentang keputusan Megawati, Maka kader PDIP siap serang kembali dengan cara kotor sekalipun. Hal ini terbukti adanya rekayasa foto Abraham Samad dengan putri Mis indonesia beberapa minggu lalu, dan juga penangkapan BW sebagai tersangka persaksian palsu di MK.
Sangat layak jika kita membandingkan posisi KPK pada masa SBY dan jokowi saat ini di mata publik. Mungkin tepatnya, di era partai berbendera biru, KPK bak mutiara yang disanjung-sanjung karena keberanian dan kebersihannya, namun tidak di masa kekuasaan partai berbrndera merah saat ini, KPK seperti sampah yang mengalir di air yang keruh juga tak mampuh mengubah kekeruhanya.
PDIP yang beberapa priode lalu menjadi partai Oposisi, dan selalu menghindar saat dirangkul rezim SBY, kini menjadi partai momok yang mengerikan bagi lawan politiknya. Sangat beralasan, saat ini partai dengan kepala banteng itu merasa terusik karena tak mendapatkan kursi di DPR RI, Dengan alasan tersebut PDIP Menginginkan dan memperjuangkan kursi di yudikatif dan esksekutif dengan cara apapun. Jokowi menutup mata, tak pedulikan kompetensi dari mentri-mentrinya. Wajar jika publik memberi predikat "presiden boneka" untuk jokowi.
Di era jokowi-lah kita bisa ketemukan mentri mantan preman dengan tato di kakinya. Di era ini pula kader tak banyak menjabat menjadi mentri, tapi pengusaha yang dulu menompang dana kampanye calon presiden banyak menduduki jabatan mentri, Hal ini dilakukan untuk balas budi. Dan menutupi asumsi publik tidak ada bagi-bagi kursi di kader partai. Al hasil mencuat opini penjualan gedung SDM oleh susi semelekete, muncul juga penaikan harga BBM dan sembako, walau pada akhirnya ambisius menaikan BBM di tertawakan negara tetangga, dimana indonesia dianggap bodoh mrnaikan harga BBM saat harga minyak dunia turun.
Tapi di era ini, kita juga ketemukan positifnya, baru-baru ini presiden menolak grasi bagi pengedar dan gembong NARKOBA. Enam dari Mereka dihukum mati untuk gelombang pertama, dan janjinya ada emam puluh orang yang juga menunggu gelombang hukum mati berikutnya. Masih segar ingatan kita si tukang sate yang di polisikan sekjen partai penguasa karena dianggap melecehkan presiden dengan foto editanya. Saat itu publik menyayangkan pengunduhan foto tersebut dan polisi menangani kasus tersebut, tapi bagaimana dengan editan foto samad dengan Putri Mis Indonesia, adakah yang menggugat, adakah yang mau menyelidiki siapa pelakunya?, ironi, hukum hanya intuk rakyat yang tak mampu dan bodoh.

0 komentar:

Posting Komentar