Minggu, 25 Januari 2015
On 10.13 by Unknown in Negara No comments
Petinggi KPK sejauh ini belum ada yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sehingga lawan pun menggunakan masa lalu yang sebetulnya tidak relevan diangkat menjadi kasus baru. Saya heran, seorang pengacara mengarahkan klayen dan saksinya dimuka hukum malah berbuntut pidana. Klo gitu kenapa klayen dan saksi lain tak mengajukan gugatanya saat kuasa hukumnya tak sesuai dengan harapnya. Saya yakin seorang Sabran juga diarahkan untuk 'berbohong' saat persidangan kala digugat lawan politiknya saat itu.
Saya juga heran kenapa lembaga etik advokad diam saja, apa karena PERADI memang tak diakui sebagai lembaga legal kuasa hukum indonesia? atau PERADI takut kalo kebiasaan advokad itu di buka?. Saya kira kasus BW ini sangat erat dengan citra Advokad. Pasalnya terdapat tugas-tugas pokok advokad didalamnya yang di perkarakan dalam kasus BW dan Pandu Praja. Advokad mempunya Tupoksi yang mendasar, selain sebagai wakil dari para pihak yang dikuasakan, advokad juga menjadi penasehat hukum yang mengarahkan pihak klayenya dalam berperkara.
Sebagai advokad juga bertugas mencarikan keadilan klayen dengan cara mempelajari kasus dan delik yang sesuai dengan kasus klayen walau klayen salah. Sebab itu wajar jika klayen mendapat arahan dari kuasa hukumnya untuk mengatakan apa di depan hakim saat persidangan. Kasus-kasus besar yang tak terbukti kebenaranya namun sesunggunya klayen melakukan pelanggaran hukum adalah kasus yang lebih banyak pengarahan dari advokad. Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan banyak advokad dlm nasehat masalah hukum hukum pada klayennya klayennya yang sesungguhnya kuasa hukum tau bahwa klayen betul bersalah.
Itu sebabnya saya sangat setuju jika dalam kasus BW dan Pandu Praja secara tersirat adalah pelumpuhan TUPOKSI dan bahkan mengancam keberadan advokad. Sangat layak kalau banyak kuasa hukum dan praktisi hukum yang siap menjadi bomber terdepan kasus BW. tapi jika di bandingkan dengan kasus mal praktik pada krdokteran masi tidak seberapa kompak orang Peradi dan advokad bersatu. Karena mungkin terkesan membuat nasehat yang salah pada klayennya dalam pembelaan di muka hukum, hal ini bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat kita. Menyuruh berbohong itu dosa tapi kalo membela klayen bagaimana?. Itu sebabnya tak banyak Advokad turun jalan saat kasus BW.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Seseorang harus meyakini bahwa eksistensinya tidak begitu saja ada. Seseorang harus meyakini bahwa dirinya ada karena ada yang menciptaka...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri i...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri...
-
Orang SBY banyak menjadi terpidana korupsi gara-gara KPK, tapi Demokrat tak pernah serang KPK, walau yang mendirikan KPK adalah rezim SB...
-
Nek Gak Melu Nabi, Melu Sopo? Nek Gak Melu Kiai, Melu Sopo? Kurang lebih ada waktu 35 jam untuk menentukan masa depan Indonesia ...
-
Aku terlahir dari keluarga yang ekonominya menengah kebawa. Ibuku meninggal saat aku berumur sembilan tahun. Sayang, seharusnya ibu tid...
-
1. حِفْظُ الدِّيْنِ (Menjaga Agama) 2. حِفْظُ النَّفْسِ (Menjaga Diri) 3. حِفْظُ الْعَقْلِ (Menjaga Akal) ...
-
Kata modrenisasi acap kali menjadi primadona para kebanyakan orang saat ini. Kendati tidak tahu sebetulnya modrenisasi secara gamblang...
-
Petinggi KPK sejauh ini belum ada yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sehingga lawan pun menggunakan masa lalu yang sebetulnya...
-
Mata dan telinga kita sering kali membaca dan mendengar kasus HAM di media cetak atau elektronik yang terjadi negara ini. Serasa buka...
Categories
Sample Text
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar