Kamis, 10 Juli 2014
On 18.48 by Unknown No comments
Siang
itu seorang pemuda akan memimpin sebuah sidang musyawarah besar. Acara yang
telah di canangkan setengah bulan yang lalu itu merupakan yang pertamakalinya.
Dia mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa memabawa musyawarah
itu menjadi ajang diskursus yang sukses.
Setibanya
di ruangan sidang dia meliahat dan sedikit terkaget karena belum ada peserta
yang datang. Dia keluar dan melihat langit sudah tertutup awan hitam bertanda
akan turun hujan. “mana ketua panitia?” dia mencoba mencari sebuah informasi
agar menjadi inspirasi dalam kebijakannya nanti. “ ketua sedang melobi pimpinan
sekoalah” seorang panitia menjawab pertanyaanya. Pemudah tadi menghelah nafas
sebenatar dan mencobah mengalihkan fikiranya sambil meliahat paniatia
mempersiapakan ruang sidang.Dia duduk dan mengambil HPnya seperti mengetik
sesuatu di kolom sms HPnya.Beberapa menit kemudian terdengar suarah yang dia
kenal suarah itu.Dan menoleh ke bebelakang, dia menemukan pandangan bahwa yang
datang adalah ketua panitia.“Gimana ini teman-teman sudah dilobi lagi?” sambil
dia jabatkan tanganya ke pada ketua panitia itu. “Suda, cuman karena cuaca mau
hujan sperti ini mungkin akan menghambat mereka”.Sautnya sambil mendenguskan
nafas yang masih memburunya. “oke kita tunggu saja sampai beberapa menit lagi” kata pemudah itu.
Sebagian
panitia masih berjajar diteras ruang sidang menunggu peserta sidang yang belum
kunjung datang, gemuruh angin mengusik semua penjuru, mengusir dialog-dialog
kecil yang tadi bersautan behenti tak ada lagi.Semua harus menekan dalam-dalam
suaranya agar terdengar siapa yang diajak berdialog.Ditengah-tengah itu
berduyun-duyun peserta datang dan menempati kursi ruang sidang. Kemabali lagi
pemudah itu melobi memberi kebijakan jika lima belas menit lagi peserta juga
belum datang sidang tetap harus dimulai. “Oke kita sepakati saja, jika lima
belas menit peserta tidak juga datang kita tetap memulai sidang ini” saut pemudah tadi.
Mereka
masih setia menunggu peserta lain , sepertinya hujan juga sudah redah hanya
sedikit grimis yang masihh turun. Sebagian kursi sudah terisi peserta
perempauan, begitu juga peserta laki-laki.Nampak raut waja yang kesal bercampur
kantuk menghinggapdiwajah-wajah panitia begitu juga pemudah itu. Entah apa yang
difikirkan, matanya memandang ke dalam ruangan yang masih hanya beberapa orang
saja. Sesekali melihat ke tangga bawa setaip kali terdengar suara seretan
sandal atau sepatu yang menggesek ke anak tangga.Biar saja semua berjalan dalam
renta waktu-waktu yang berjalan dibawa waktu yang tak pasti.“Kita tak
mengharapkan seperti ini, ini bukan salah kita” terdengar suarah ketua paniatia
berdialog dengan salah satu panitia yang melintas didepanya.
Semua
suda siap semua, konsumsi juga sudah ada di ruang belakang.Sound sistem juga
suda berdegub keras memekakan telinga sedari tadi di test mana yang kuarng
mantab suaranya, bangku sedikit terisi hanya beberapa saja, terlampir juga
beberapa draf AD/ART dan juga GBHO, entalah siapa yang harus di keluhkan,
prediksi peserta yang diperkirakan sebanyak tuju puluh orang, kini hanya
sekiatar empat puluh orang.“Sudalah kita mulai saja”.“kapan lagi mereka akan
datang, sedangakan sekarang sudah jam satu lebih”. Pemudah tadi menyerukan pada
ketua panitia.
Pemuda
tadi menuju kepodium yang sedari tadi kosong, bersamaan dengan salah seoarang
yang ditunjuk sebagai setering comite dalam acara itu dan ikut juga sekjen
disamping sebelah kirinya. “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu……………! “Ma’af
!, Beribuh kali ma’af kami ucapkan
kepad perserta musyawarah karena sudah menunggu lama”. Nampak gugup pemudah
tadi mengucapakan ma’af kepada peserta musyawarah.Pandangan pun mengarah kearah
podium.
“Kita
tidak merencanakan hal sepeerti ini, kita juga tidak mau acara kita seperti ini
akan tetapi kenyataanya sepereti ini”.semua peserta menganggukan kepela,
seperti mengerti apa yang dimaksud oleh pemudah itu.“Ini memang baru pertama
kalinya kita sebagai pemula memang kalah dibandingkan mereka yang suda beberapa
kali melakukan sidang seperti ini,
mudah-mudahan kita bisa mempelajari hal ini dan dapat lebih baik lagi” semua
pandanga peserta menuju kepada pemudah tadi.dia memulai pendahuluan dalam
sidang itu dan pada akhirnya masuk kepada tata tertib sidang yang nanti juga
membahas isi sidang.
Draf
yang tadi di persiapkan sudah di sebar dan berada pada tangan peserta
masing-masing, dibacakanya tata tertib sidang yang akan di pimpinya. Salah satu
seorang peserta pun memberi intruksi ditenga pembacaan tatatertib itu.“ma’af
mas kita semua sudah memegang draf yang telah disediakan, disini terdapat sekitar dua pulu lembar, apa tidak lebih
baiknya kita baca dulu saja sendiri nanti yang tidak bisa dialaksanakan atau
kurang relevan denga kondisi kita, kita delet?”
“Ya
sekarang saya tawarkan perlu atau tidak pembacaan tata tertib sidang ini”
pemudah itu menanggapi intruksi itu
Setering
comite yang duduk di sebela kirinya pun langsung angkat suara untuk menanggapi
hal tersebut “ya trimakasi mba’ sebelumnya saya mohon ma’af karena bukan
seharusnya saya menjawabnya, seperti ini lo mba’ dalam draf ini memang harus di
bacakan terdahulu tata tertib guna terlaksananya sistematika berjalanya sidang
yang kita laksanakan.Perjalanan sidang ini bisa tertib dengan cara mengikuti
tata tertib ini, sedang nanti teknis sidang pembenahan dan juga pembaharuan
Draf terserah bagaimana dibacakan satu persatu oleh pemimpin sidang atau
dirapatkan perkomisi,makanya kita baca dulu saja tata tertibnya setelah itu
terserah pimpinnan sidang memilih teknisnya”jelas setering comite yang duduk di
sebelah pemudah itu.
Namapak
tangan pemudah itu mejawil tangan setering comite seraya menghentikan
pembicaraan setering comite. “Ya makanya saya tawarkan perlu dibaca atau
tidak Draf tata tertib sidang ini”
tambahnya lagi.
Setering
comite pun semakin tidak mengerti apa yang diinginkan dan maksud pemudah itu,
tapi setering comite diam saja sambil berjalanya sidang.Peserta yang tidak
tahu-menahu tentang sidang itu pun mengiyakan tentang tidak dibacakannya tata
tertib sidang, sepertinya mereka lebih mendahulukan lekas selesainya sidang itu
bukan pada pemantapan AD/ART dan GBHO yang harus disusun rapi dan dapat
dijalankan oleh kepengurusan BEM baru.Ditenga-tenga sidang pembacaan draf itu
ada yang mengusulkan untuk tidak di baca lagi sebagaimana yang disepakati tadi,
tapi lagi-lagi pemudaitu masih membaca lembaran-lembaran draf itu.Siadang
semaki kacau karena perdabatan mulai timbul sesuai dengan keinginan masing.
“maaf
pimpinan sidang yang saya hormati” seorang memotong pembacaan pemudah itu.
“Bagaimana
kalau kita langsung saja menuju kepada seson terakhir, ya’ni pemilihan ketua
BEM?”
Seorang
peserta mengiyakan “ya saya setuju dengan usulan tadi, kita tidak perlu
membacakan GBHO dan GBHK, terlalu rumit, terlalu dini untuk kita terapkan di
BEM kita”
“betul”
seorang lagi menambhakan.
Wajah
ketua setering comite pun Nampak merah.
“bukan
masalah terlalu rumit atau tidaknya sebenernya tujuan kita adakan acara seperti
ini, akan tetapi lebih mendewasakan kita sebagai gerakan militan pertama yang
mengawali ide ini di kampus kita, kalau anda-anda merasa tidak perlu kapan lagi
kita berfikir sebagaimana mahasiswa-mahasiswa yang lain”
Setelah
itu setering comite pun meninggalkan forum entah kemana, semua orang terpelongo
melihatnya.Seterusnya pimpinan sidang pun masih di meja sidang, berbelit kesana
berbelit kesini tak tau kemana arah sidang.Sering sekali mengikuti pendapat
audient sehingga sering sekali ide-idenya bertabrakan tak tau mana arahnya yang
di sepakati.
Wajah-wajah
audient lasu peluh.Tak ada ide yang dapat masuk dan keluar dari pengentasan
masalah.Semua ingin menang semua ingin dapat perhatian penuh dan menginginkan
pendapatnya yang di harus digunakan.
“mas
sebenarnya anda ngomong apa si dari tadi?, coba lihat audient sudah tak
memperhatikan lagi, mereka muak” seorang peserta perempuan menyelah
“yasuda
begini saja, kita lansung saja memilih ketua BEM”
“ketua
BEM yang mana mau kita pilih?”
“betul
calon mana yang mau kita pilih, bursa calon yang sudah ada tidak hadir, padahal
GBHO anda mengatakan calon ketua harus
hadir”
Pipinan
sidang kembali merundukan kepala.Semua bersaut, semua ricuh, peluh menetes dari
dahi pimpinan sidang.Lagi-lagi ketimpangan itu membrondong otak panasnya.Tak
lama kemudian Ketua setering Comite pun datang.Tapi kedatangannya tak lagi
menempati kursi yang besanding dengan pipimpinan sidang.Di lebih memilih duduk
di belakang.
“ya
sudah pemilihan saja langsung ” saut Ketua Setering Comite sambil ke depan
memegang mike
“kita
akan memilih nama calon yang ada disini, itu pun kalau disetujui, karena yang
ada hanya calon dari perempuan”
“setuju…….!
Setuju…….!” Riuh lagi
“saya
tidak setuju” kata perempuan yang
tercantum namanya di papam pemilihan
“kenapa
tidak setuju”
“
kita-kita cewek, gerak kita tidak bebas, tidak bisa keluar, tidak bisa maksimal
nanti bekerjanya”
Tertegun
lagi kepala ketua stering comite itu.“inilah doktrin kolot yang sering tidak bisa kita hindarkan, sering sekali kita
berbentur dengan idealism-idealisme yang di anggap kebanyakan orang islam.
cobalah kita melihat sejarah, bukankah
ratu-ratu juga memegang jabatan pemerintah di belahan dunia barat
sukses?. tapi sudahlah, kalua memang tak mau. Mau tidak mau kita akan memilih
orang yang tidak ada yang telah tercatat sebagia calaon Ketua BEM”
“bagamana
kalau kita munculkan lagi busrsa nama calon Ketua itu”
“Setuju…..!setuju…!”
serentak dari peserta perempuan dan laki-laki
“saya
tidak setuju, saya sudah mengenal calon yang terpilih, mereka punya kemampuan
lebih” seorang peserta laki-laki menyangkal
“ya
kalo punya kemapuan tidak punya kemauan dan loyalitas sama saja mas!”sauat dari
peserta laki-laki
Laki-laki
itu diam, sambil menatap kearah depan.
“ya
sudah kalau anda lebih setuju denganpemilihan ulang calon kita pilih sekarang”
“anda
sendiri” kata seorang peserta
“iya
….. andalah yang pantas!” saut banyak audient menunjuk setering komete itu
“tidak
bisa saya, saya sudah kerja kemaren untuk mensukseskan acara ini yang lain saja”
“anda
harus mau, karena ini merupakan suarah orang banyak”
“ya
sudah begini saja kita kembalikan kepada calon yang tidak datang, saya merasa
belum siap. Saya tidak mampu, kalaupun nanti mereka tidak bertanggung jawab itu
urusan mereka, karena kemaren ketika kami ketemui mereka suda siap dan akan
datang”
“ya
begitu saja” cetus lelaki yang tadi menolak dan mengakui kemampuan para calon
“saya
tidak setuju, mereka tidak mempunyai loyalitas dan tanggungnjawab saya kira.
Buktinya mana mereka yang kemaren telah berjanji mau datang kemari?” sautnya
lagi dengan suara yang tadi menyetujui harus ada pemilihan ulang
Setering
comite pun terpaku, ketidak sedian dia menjadi calon menyeret permasalahan yang
panjang. Tapi kebesedianya menjadi calon juga akan menimbulkan kecemburuan
social. Kepala perguruan tinggi itu mempunyai sinisme yang akut, diskriminatif
yang membatu.Setering Comite menawarkan calon ketua kepada orang yang di sayang
oleh kepala sekolah agar kinerja bagus.Sedangkan setering Comite yang ini
menjauh karena merasa di diskriminasikan dengan adanya pilih kasi kepala
itu.bukankah lebi baik dia tidak mencalonkan diri agar yang demikian
menghilankan presepsi ingin mendekati kepala sekolah itu?. kembali tertegun
inilah mungkin yang bisa di lakukannya agar mahasiswa di sekolah ini tidak sama
seperti sekolah SMA tau MA. Tapi sungguh nasibmu kawan ini semua tak ada guna,
ide-ide emasmu akan berbentur dengan sifat diskrimiantif kepala sekolah itu.
akanmenjadi sebuah angan belaka kau kuliah sebagaiman perkulihan-perkulihan di
luar. Buat kegiatan sendiri yang seperti yang ada di luar akan tetapi tidak
bergantung pada intansi dimana kau kuliah biar kau tidak terusik dengan sinisme
kapala itu. to mengaharumkan nama sekolahmu tidak harsu mausuk dalam organisasi
bukan?.
Bisikan-bisikan
itu seperti menampar hati Ketua setering comite itu.sebab itulah dia tidak mau
mencalonkan diri sebagai ketua BEM. Mungkin acara inilah yang menjadi akhir
dari ide-idenya untuk sekolah ini. Dan pada saat itulah mempunyai tekat
pemikiranya akan di simpan kedalam hati yang risau dengan
kebimbangan-kebimbangan yang tak perna habis. Namun ada satu yang bisa menenangkan
kegundahan itu.hanya Kiai Ach. Hasan dan
Kiai Ach. Husain lah yang bisa membuat bibir tersenyeyumkan dan melesungkan
pipinya.Bukan kepala sekolah bukan organisasi yang basi tak bertepi.
Cerita-cerita
tentang sidang pun telah kabur terbawa lamunan-lamunan itu.sering pulah terucap
kata setiap akan tidurnya
kalau
bukan karena kau
aku
tidak akan disini
kalau
bukan karena janjimu didepan mereka
aku
juga tidak akan disini
tapi
tolong tunjukan arah itu
arah
kemanfaatan ilmuku
karena
aku pemuja tuhan dan pemikiranmu.
Sesekali sidang-sidang itu pun
terlintas di benaknya saat malam sidang itu akan dialkukan. Teringat lagi
tentang kepala sekolah itu terhadapnya, seperti kutukan para penduduk pulau
salomon mengutuk pohon-pohon yang ingin ditumbangnya, Air mata pun mengalir kepipi “alangkah pedihnya dibenci
orang yang dihormati”. Bayang-bayang dan ksediahn itu terhenti ketika
Teringat wajah dua kiyai yang dipujahnya. Terus berganti, terus
terlintas dan takan berkhir.
oleh
Agus Salim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Seseorang harus meyakini bahwa eksistensinya tidak begitu saja ada. Seseorang harus meyakini bahwa dirinya ada karena ada yang menciptaka...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri i...
-
Sedikit tergelitik saat melihat kebaikan menjadi tren penguasa di era yang aburadul seperti ini. Ada apa sebabnya para pemimpin di negeri...
-
Orang SBY banyak menjadi terpidana korupsi gara-gara KPK, tapi Demokrat tak pernah serang KPK, walau yang mendirikan KPK adalah rezim SB...
-
Nek Gak Melu Nabi, Melu Sopo? Nek Gak Melu Kiai, Melu Sopo? Kurang lebih ada waktu 35 jam untuk menentukan masa depan Indonesia ...
-
Aku terlahir dari keluarga yang ekonominya menengah kebawa. Ibuku meninggal saat aku berumur sembilan tahun. Sayang, seharusnya ibu tid...
-
1. حِفْظُ الدِّيْنِ (Menjaga Agama) 2. حِفْظُ النَّفْسِ (Menjaga Diri) 3. حِفْظُ الْعَقْلِ (Menjaga Akal) ...
-
Kata modrenisasi acap kali menjadi primadona para kebanyakan orang saat ini. Kendati tidak tahu sebetulnya modrenisasi secara gamblang...
-
Petinggi KPK sejauh ini belum ada yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sehingga lawan pun menggunakan masa lalu yang sebetulnya...
-
Mata dan telinga kita sering kali membaca dan mendengar kasus HAM di media cetak atau elektronik yang terjadi negara ini. Serasa buka...
Categories
Sample Text
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar